Syracusebroadband.org – Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa ketersediaan pangan nasional kini berada dalam kondisi aman, yang menjadi kunci dalam mengendalikan inflasi di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang menegaskan bahwa beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan, dengan inflasi bulanan berada di angka 0,28 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi bulan ini tidak signifikan, terutama saat momentum Iduladha. Menteri Tito menambahkan bahwa stabilitas harga beras telah terjaga selama dua tahun terakhir, dan komoditas strategis lain seperti daging ayam, sapi, gula pasir, dan telur juga menunjukkan tren stabil.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa capaian ini mencerminkan semakin kuatnya produksi pangan nasional. Meski begitu, Amran mengingatkan bahwa harga komoditas seperti bawang merah dan minyak goreng mengalami anomali karena masalah distribusi. Dalam rangka mitigasi, Kementan mendorong pemerintah daerah dan Bulog untuk meluncurkan pasar murah secara lebih masif.
Kementan optimis bahwa kolaborasi antara peningkatan produksi dan distribusi yang lancar akan menjaga stabilitas harga pangan, serta melindungi daya beli masyarakat ke depannya. Dengan pencapaian swasembada pangan pada delapan dari sebelas komoditas yang dikendalikan, Indonesia kini memproduksi 73 juta ton pangan dari kebutuhan 68 juta ton, dengan angka impor hanya sekitar 4 persen.