Syracusebroadband.org – Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan komitmennya untuk terus berkomunikasi dengan penyedia indeks global seperti MSCI. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat pasar modal Indonesia dengan mendapatkan masukan dari para investor global. Jeffrey menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Jakarta pada Selasa.
Jeffrey mengapresiasi respon MSCI yang telah menerima empat proposal reformasi pasar modal Indonesia yang diajukan oleh BEI. Pertemuan terakhir dengan MSCI dilaksanakan pada 16 April 2026, yang menunjukkan keseriusan BEI dalam menjalin hubungan yang baik dengan penyedia indeks tersebut.
Dalam pengumumannya pada 20 April 2026, MSCI mengakui upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam melaksanakan reformasi untuk meningkatkan transparansi pasar. Meskipun begitu, MSCI masih menyoroti perlunya perbaikan dalam cakupan, konsistensi, dan efektivitas data yang digunakan, serta langkah-langkah terkait penentuan free float dan penilaian investability.
Selain itu, MSCI menyatakan akan mempertahankan kebijakan yang berlaku saat ini untuk pasar Indonesia, termasuk pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). MSCI juga akan menghapus saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi, sesuai dengan identifikasi oleh otoritas Indonesia.
Di masa depan, MSCI berencana untuk terus berinteraksi dengan pelaku pasar dan otoritas di Indonesia, sambil mengupayakan umpan balik terkait data baru yang dirilis. Penelaahan aksesibilitas pasar berikutnya oleh MSCI dijadwalkan pada Juni 2026.