Syracusebroadband.org – Pengamat pertanian Khudori mengungkapkan bahwa sejumlah produsen beras mulai beralih ke produksi beras fortifikasi di tengah tantangan harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium. Hal ini terjadi akibat melonjaknya harga gabah di pasar, yang kini mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram, melebihi harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kondisi ini menyebabkan biaya produksi beras meningkat, sementara produsen masih terikat pada batasan HET saat menjual beras medium dan premium. Khudori menjelaskan, “HET adalah batas yang tidak boleh dilanggar. Ketika harga gabah jauh di atas HPP, HET beras bakal terlampaui.” Dalam situasi ini, produsen berusaha untuk menemukan solusi dengan memproduksi beras khusus, termasuk beras fortifikasi, yang tidak terpengaruh oleh HET.
Meskipun beras fortifikasi semakin banyak ditemukan dalam ritel modern selama dua hingga tiga bulan terakhir, Khudori menegaskan bahwa ini tidak berarti produsen beralih sepenuhnya dari beras premium. Beras fortifikasi adalah salah satu jenis beras khusus yang diperkaya dengan vitamin dan mineral, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Namun, ia mencatat bahwa volume produksi beras fortifikasi masih relatif kecil dibandingkan dengan produksi nasional secara keseluruhan.
Perlu diingat, tidak semua penggilingan dan produsen mampu beralih ke produksi beras fortifikasi. Ini memerlukan investasi tambahan serta menghadapi risiko pasar tersendiri. Khudori menekankan pentingnya evaluasi terhadap kebijakan harga beras agar tidak mendorong produsen mengurangi produksi yang dibutuhkan masyarakat atau bahkan keluar dari pasar. Diperlukan data yang akurat untuk memahami dampak peningkatan beras fortifikasi terhadap harga beras keseluruhan dan keamanan pasokan di pasar.