Syracusebroadband.org – Kepergian Zaini Abdullah, mantan Gubernur Aceh yang menjabat dari tahun 2012 hingga 2017, mengundang duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Tokoh yang akrab disapa Abu Doto ini dikenal sebagai simbol ketenangan dan dedikasi dalam upaya perdamaian di wilayah tersebut. Pada Sabtu, 13 Juni, puluhan ribu pelayat dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pejabat, ulama, dan warga umum, hadir di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, untuk memberikan penghormatan terakhir.
Proses pemakaman dimulai di Banda Aceh sebelum jenazah dibawa ke kampung halamannya di Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Di sana, antusiasme masyarakat tetap tinggi, dengan warga yang datang dari berbagai daerah untuk memberikan penghormatan. Meskipun telah melaksanakan salat jenazah di Banda Aceh, atas permintaan masyarakat setempat, salat jenazah kedua kalinya dilakukan di Masjid Teureubue pada malam harinya.
Saksi mata dari masyarakat, Mirza Marjaya, menyatakan bahwa banyak warga yang rela menunggu berjam-jam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh kunci perdamaian tersebut. Sebagai bagian dari momen refleksi, budayawan M. Adli Abdullah menilai prosesi pemakaman ini adalah penghormatan yang layak bagi jasanya.
Zaini Abdullah dimakamkan di kompleks Pesantren Terpadu Hafidh Quran, yang terletak di samping makam ayahnya, Teungku Abdullah Hanafiah. Penempatan lokasi makam ini melambangkan perjalanan hidup Zaini, yang meskipun pernah berjuang di luar negeri, tetap kembali ke tanah kelahiran untuk menuntaskan kehidupannya. Penghormatan ini menegaskan warisan dan pengaruh besarnya bagi masyarakat Aceh.