[original_title]

Doom Spending: Pengeluaran Berisiko yang Dikenal Gen Z

Syracusebroadband.org – Istilah “doom spending” semakin populer untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan uang sebagai pelarian dari stres dan kecemasan. Fenomena ini banyak dijumpai di kalangan generasi Z yang hidup di era digital dan media sosial. Doom spending mencerminkan perilaku impulsif dalam berbelanja ketika seseorang merasa cemas terhadap kondisi finansial atau masa depannya.

Doom spending bukan sekadar pemborosan, melainkan respons emosional ketika seseorang lebih memilih untuk menikmati uang saat ini daripada memikirkan masa depan. Hal ini dapat terlihat dari kebiasaan berbelanja barang yang tidak dibutuhkan, berbelanja daring, atau sering makan di luar sebagai bentuk self-reward. Penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi serta dorongan dari media sosial yang memaparkan gaya hidup konsumtif orang lain.

Di Indonesia, survei yang melibatkan 384 responden generasi Z di Kota Tegal mengungkapkan bahwa tekanan sosial dan paparan ajakan berbelanja dari influencer juga turut memicu perilaku ini. Survei Deloitte 2025 mencatat lebih dari 80 persen generasi muda merasa khawatir terhadap keuangan mereka, dengan 48 persen di antaranya tidak merasa aman secara finansial.

Dampak dari doom spending berpotensi merugikan kesehatan finansial seseorang, mengurangi kemampuan menabung, dan menciptakan siklus emosional yang tidak sehat. Sebagai solusi, disarankan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum berbelanja, menetapkan batas pengeluaran, serta memberi jeda sebelum membeli barang yang tidak direncanakan. Memahami pemicu perilaku ini dapat membantu individu membuat keputusan finansial yang lebih bijak.

Baca Juga  GNB Diskusikan RUU Polri dalam Pertemuan dengan Megawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top