Syracusebroadband.org – Diplomasi yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto mencerminkan strategi “mendayung di antara dua karang,” menurut Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto. Pada konferensi pers yang berlangsung di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026), Utut menyampaikan bahwa Indonesia memanfaatkan posisi strategis untuk menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan global, baik dari negara Barat maupun kelompok seperti BRICS.
Utut menjelaskan bahwa langkah diplomasi ini sejalan dengan keputusan Indonesia untuk bergabung dalam BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Keanggotaan ini, menurutnya, adalah langkah strategis untuk memperluas pasar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita masuk BRICS untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Utut.
Ia juga menyoroti pentingnya keanggotaan Indonesia di BRICS, mengingat jumlah penduduk negara-negara anggota yang besar, yang dapat memberikan peluang signifikan bagi produk Indonesia di pasar global. Langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan posisi Indonesia dalam arena internasional, menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi perdagangan dan investasi.
Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menambahkan bahwa banyak negara Barat mempertanyakan penggabungan Indonesia ke dalam BRICS, yang menunjukkan pertanyaan dan kritik yang perlu dijawab secara strategis. Dengan menjalin hubungan yang seimbang, diharapkan Indonesia dapat menghadapi tantangan global dengan lebih baik, sambil memaksimalkan keuntungan ekonominya.
Melalui diplomasi yang hati-hati, Utut percaya bahwa Indonesia akan lebih mampu menjalankan peran sebagai jembatan antara berbagai kekuatan dunia, sejalan dengan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang independen dan aktif.