Syracusebroadband.org – Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) menggambarkan sebuah perjalanan yang penuh gejolak sebelum dinyatakan sebagai organisasi terlarang pada tahun 1966. PKI, yang lahir dari Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pada 1914, merasakan berbagai fase perjalanan, mulai dari kebangkitan gerakan politik hingga keruntuhan pasca-peristiwa G30S 1965.
Sejak awal, PKI telah terlibat dalam konflik politik di Indonesia, dengan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926 yang berimbas pada penindasan anggota partai tersebut. Setelah kemerdekaan, PKI berusaha membangun kembali kekuatannya, paling terlihat pada Pemilu 1955 dengan memperoleh 16,36 persen suara, menempatkannya sebagai salah satu kekuatan politik utama.
Memasuki era Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno, PKI semakin memperkuat posisinya, giat mendukung gagasan Nasakom yang menggabungkan unsur nasionalis, agama, dan komunis. Namun, ketegangan dengan Angkatan Darat dan kelompok politik lain menjelang 1965 memperburuk keadaan.
Puncak krisis politik terjadi melalui gerakan G30S yang dipicu oleh penculikan sejumlah jenderal pada 30 September 1965. Penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa peristiwa tersebut berimplikasi luas, dengan PKI dituduh terlibat secara langsung. Situasi pun berbalik setelah G30S gagal; pemerintah Orde Baru melakukan pengendalian ketat terhadap PKI, termasuk penangkapan dan kekerasan yang meluas terhadap anggotanya.
Akhirnya, 12 Maret 1966, Soeharto mengeluarkan keputusan yang membubarkan PKI, yang diakui semakin menghantam kekuatan partai ini di Indonesia. Pembubaran tersebut menandai berakhirnya era politik PKI dan beralihnya kekuasaan kepada Orde Baru yang berlangsung hingga 1998. Hingga kini, sejarah PKI dan dinamika politik pasca-G30S terus menjadi perdebatan dalam kajian sejarah Indonesia.