[original_title]

Gorengan dan Kopi: Penyebab Pembabatan Hutan yang Mengkhawatirkan

Syracusebroadband.org – Pernyataan kontroversial dari seorang komisaris badan usaha milik negara (BUMN) mengenai kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi kopi dan gorengan yang dihubungkan dengan pembabatan hutan, baru-baru ini mencuri perhatian publik. Ia mengungkapkan bahwa tanpa budaya minum kopi, tidak akan ada ekspansi kebun kopi, dan jika masyarakat tidak mengonsumsi gorengan, tidak akan ada kebun sawit. Ini menimbulkan kesan bahwa perilaku konsumsi adalah penyebab utama kerusakan hutan.

Namun, pandangan tersebut dinilai sebagai simplifikasi atas isu yang lebih kompleks. Dalam konteks lingkungan, pendekatan yang hanya berfokus pada permintaan—atau demand-side—memang terlihat logis, tetapi tidak sepenuhnya mencakup aspek produksi yang signifikan. Permintaan yang tinggi dari masyarakat menciptakan pasar yang kemudian mendorong produksi, termasuk dalam kasus penggunaan lahan untuk kebun sawit.

Sebaliknya, pendekatan supply-side mempertanyakan proses produksi itu sendiri. Aspek seperti kebijakan tata ruang, perizinan lahan, dan penegakan hukum mempunyai peranan penting dalam menentukan kondisi hutan di suatu kawasan. Dengan kata lain, keputusan mengenai perluasan kebun tidak hanya ditentukan oleh permintaan konsumen, tetapi juga bagaimana dan di mana produk tersebut dihasilkan.

Misalnya, kebun kopi tidak harus dibangun di lahan hutan; lahan yang terdegradasi atau sistem agroforestri yang ramah lingkungan bisa menjadi alternatif untuk menjaga keberlanjutan hutan. Dengan demikian, penanganan masalah pembabatan hutan harus melibatkan analisis yang lebih komprehensif, tidak sekadar menyalahkan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Baca Juga  10 Fakta Unik Nuuk, Ibu Kota Terkecil di Dunia yang Mengagumkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top