Syracusebroadband.org – Ketertarikan mendalam Generasi Alpha terhadap media sosial bukan hanya fenomena teknologi, tetapi juga berhubungan erat dengan kebutuhan perkembangan psikologis mereka. Psikolog Klinis Dewasa, Teresa Indira, mengungkapkan bahwa generasi yang lahir antara 2010 hingga 2025 ini adalah yang pertama terpapar lingkungan digital sejak lahir dan pada tahun 2026, mereka sudah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal.
Dalam konteks perkembangan psikososial, Teresa merujuk pada teori Erik Erikson yang menyatakan bahwa remaja berada pada tahap “Identity versus Role Confusion”. Pada fase ini, remaja sering bertanya tentang jati diri mereka, kelompok sosial yang sesuai, dan bagaimana persepsi orang lain terhadap diri mereka. Media sosial menjadi ruang yang relevan untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Melalui platform berbasis gambar dan video, remaja dapat mengekspresikan diri dan menerima respons cepat dari lingkungan sosial mereka. Teresa menambahkan, pengakuan yang didapat melalui “likes”, komentar, dan jumlah pengikut memberikan rasa diterima dan diakui.
Aspek biologis juga turut memengaruhi ketertarikan ini. Notifikasi dan interaksi di media sosial dapat memicu pelepasan dopamin di otak, menimbulkan perasaan senang dan dorongan untuk terus berinteraksi. Kombinasi kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis ini membuat media sosial sangat relevan dalam kehidupan remaja saat ini.
Teresa menegaskan bahwa orangtua perlu memahami aspek perkembangan ini agar dapat mendampingi anak dengan lebih proporsional dalam pencarian jati diri di era digital. Dengan pemahaman yang tepat, interaksi di media sosial dapat menjadi pengalaman yang positif bagi Generasi Alpha.