Syracusebroadband.org – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan fitur transaksi repositori (repo) dengan underlying Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai bagian dari Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA). Layanan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Keuangan, bertujuan untuk meningkatkan likuiditas pasar SBSN dan mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menuturkan bahwa pengembangan fitur ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas transaksi repo SBSN, yang saat ini masih terbatas. Hingga saat ini, nilai transaksi repo SBSN interdealer belum mencapai Rp1 triliun pada 2025, jauh di bawah total transaksi repo SUN interdealer yang sudah melebihi Rp2.500 triliun. Dengan hadirnya fitur repo ini, diharapkan dapat menjadi katalis untuk meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBSN.
Fitur baru ini memberikan alternatif bagi bank umum, bank pembangunan daerah, dan pelaku pasar institusional lainnya dalam mengelola kebutuhan pendanaan jangka pendek serta portofolio investasi. Sebelumnya, SPPA telah meluncurkan fitur transaksi repo Surat Utang Negara (SUN) pada Maret 2025, yang menjadi platform kuotasi dealer utama pasar uang dan valuta asing.
Iding menjelaskan bahwa peluncuran ini mendukung penguatan pasar keuangan syariah nasional. Dengan tersedianya sarana transaksi yang efisien, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas transaksi repo SBSN dan likuiditas pasar sekunder. Dengan pendekatan ini, transaksi repo antar lembaga keuangan konvensional dapat dilakukan dengan skema berbasis Global Master Repurchase Agreement (GMRA), menciptakan peluang bagi aktivitas pasar yang lebih aktif dan transparan.
BEI berkomitmen untuk terus mengembangkan SPPA dengan menggandeng berbagai pihak untuk memastikan efisiensi, transparansi, dan likuiditas pasar keuangan nasional dalam jangka panjang.