Syracusebroadband.org – Fenomena Harvest Moon yang terjadi pada Sabtu malam, 26 September, tidak seharusnya menjadi sumber kekhawatiran akan potensi bencana. Hal ini disampaikan oleh Daryono, seorang anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI). Ia menjelaskan bahwa Harvest Moon merupakan istilah tradisional yang merujuk pada bulan purnama yang terjadi pada bulan September atau Oktober, yang seringkali bersinergi dengan musim panen.
Daryono menegaskan bahwa meskipun fenomena alam ini mungkin menyuguhkan pemandangan indah di langit malam, tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkannya dengan kejadian bencana, seperti banjir atau gempa bumi. Saat bulan purnama muncul, kondisi gravitasi dapat mempengaruhi pasang surut air, tetapi tidak cukup signifikan untuk menyebabkan bencana yang lebih besar.
Lebih lanjut, Daryono menyoroti pentingnya masyarakat untuk memahami peristiwa alam secara ilmiah, agar tidak terjebak dalam mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar. Ia mendorong masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dan informasi yang akurat agar dapat membedakan antara fenomena alam biasa dan ancaman bencana yang sebenarnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan saat Harvest Moon muncul, Daryono menekankan bahwa masyarakat dapat merayakan keindahan alam ini dengan kegiatan positif, seperti pengamatan malam atau festival panen. Dengan pemahaman yang tepat, Harvest Moon dapat menjadi momen yang menyenangkan dan memperkuat keterikatan dengan alam.
Sebagai penutup, Daryono mengingatkan bahwa edukasi tentang bencana dan fenomena alam sangat penting untuk membangun ketahanan masyarakat. Dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat lebih bersiap dan tanggap terhadap situasi yang sebenarnya berisiko.