Syracusebroadband.org – Iran menghadapi tantangan dalam pengawasan terhadap persediaan uranium yang sangat diperkaya, terutama di fasilitas nuklir Isfahan. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengungkapkan dalam wawancara dengan AP pada 28 April bahwa sebagian besar uranium tersebut kemungkinan masih ada di lokasi itu sejak Juni 2025, saat perang singkat dengan Israel dimulai.
Grossi menjelaskan bahwa organisasi IAEA belum dapat memastikan keberadaan uranium atau keutuhan segel yang ada. “Kami berharap dapat melakukan inspeksi untuk mendapatkan kepastian,” katanya. Citra satelit yang diambil oleh Airbus menunjukkan aktivitas mencurigakan di Isfahan, termasuk sebuah truk yang membawa 18 kontainer biru ke dalam terowongan fasilitas tersebut sehari sebelum konflik dimulai.
Kompleks nuklir Isfahan, yang menjadi sasaran serangan, dilaporkan mengalami pemboman tahun lalu dan masih menghadapi ancaman dari AS dan Israel. Inspeksi IAEA di lokasi tersebut dihentikan bersamaan dengan dimulainya konflik. Selain Isfahan, Grossi menekankan perlunya memeriksa fasilitas nuklir lain di Iran, seperti Natanz dan Fordo.
IAEA melaporkan bahwa Iran saat ini memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 kilogram diduga disimpan di terowongan yang berada di wilayah Isfahan. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang lebih besar mengenai program nuklir Iran di tengah ketegangan regional yang terus meningkat.