Syracusebroadband.org – Virus Nipah menjadi perhatian serius dalam kesehatan masyarakat global karena tingkat kematian yang tinggi, mencapai 75%. Penularan virus ini, yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, serta antar manusia, perlu dipahami untuk memutus rantai penularannya dan melindungi masyarakat.
Virus Nipah, termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae, pertama kali teridentifikasi pada wabah di Malaysia dan Singapura pada 1998-1999. Sejak saat itu, pola penularannya telah mengalami perubahan, dengan peningkatan kasus terkait konsumsi makanan terkontaminasi serta kontak langsung antara manusia.
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui tiga jalur utama. Pertama, zoonosis langsung dari hewan, terutama kelelawar buah, yang merupakan reservoir virus. Kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi atau interaksi dengan babi yang terjangkit menjadi risiko serius.
Kedua, konsumsi makanan yang terkontaminasi seperti buah-buahan yang dijilat kelelawar atau nira mentah yang terkontaminasi. Ketiga, penularan antar manusia yang biasanya terjadi di lingkungan terbatas melalui kontak erat dengan pasien, termasuk di fasilitas kesehatan yang tidak mematuhi protokol keselamatan.
Gejala infeksi Nipah muncul setelah masa inkubasi 4-14 hari, meliputi demam tinggi, sakit kepala, hingga gangguan kesadaran. Mengingat belum ada vaksin atau obat antivirus untuk penyakit ini, pencegahan menjadi hal vital. Langkah-langkah pencegahan efektif saat ini antara lain menjaga kebersihan makanan, menjauhi kontak dengan hewan terinfeksi, dan menerapkan higienitas personal yang baik.
Pemahaman mendalam tentang virus Nipah dan langkah pencegahan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyebarannya di masyarakat.