Syracusebroadband.org – Sejak peristiwa 9/11, Amerika Serikat (AS) telah terlibat dalam tiga perang besar dan membom lebih dari sepuluh negara, termasuk Afghanistan dan Irak, di bawah kepemimpinan empat presiden. Meskipun ada janji untuk mengurangi keterlibatan dalam konflik asing, kebijakan luar negeri AS tetap mempertahankan penggunaan kekuatan militer untuk memenuhi kepentingan strategisnya.
Setelah serangan teroris pada 2001, Presiden George W. Bush memulai kampanye militer yang dikenal sebagai “perang melawan teror”. Langkah ini meliputi invasi ke Afghanistan untuk menggulingkan Taliban dan menghancurkan al-Qaeda. Operasi awal tersebut berhasil, namun konflik berlangsung selama dua dekade dan menyisakan dampak besar pada kehidupan masyarakat di negara-negara yang terlibat.
Laporan dari Watson Institute di Universitas Brown mencatat bahwa konflik tersebut menyebabkan kematian sekitar 940.000 orang dan biaya yang dihabiskan AS mencapai sekitar 5,8 triliun dolar AS. Jumlah tersebut mencakup pengeluaran untuk angkatan bersenjata dan pemeliharaan veteran, dan diperkirakan dapat meningkat menjadi 8 triliun dolar dalam jangka panjang.
Setelah Afghanistan, invasi Irak diluncurkan pada 2003 dengan klaim bahwa pemerintah Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, yang kemudian terbukti salah. Meskipun misi utama di Irak dinyatakan selesai, konflik terus berlanjut hingga menyebabkan kekacauan dan kebangkitan kelompok teroris baru, termasuk ISIS. Selain itu, AS juga melakukan intervensi di negara-negara lain seperti Libya dan Suriah, menambah daftar panjang keterlibatan militer yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Kabar ini mencerminkan kompleksitas dan konsekuensi dari kebijakan luar negeri AS yang masih terus berlanjut hingga kini.