Syracusebroadband.org – Menjelang bulan Ramadan 1447 Hijriah, Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menetapkan 11 lokasi pemantauan hilal. Penetapan ini bertujuan untuk memastikan awal Ramadan, yang akan dilakukan serentak pada Selasa, 17 Februari 2026. Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kemenag Jabar, Ohan Burhan, menjelaskan bahwa persiapan teknis telah dilakukan, termasuk pelatihan bagi petugas lapangan.
Di antara lokasi utama yang ditugaskan untuk pemantauan adalah Observatorium di Kampus Universitas Islam Bandung, Pantai Keusik Luhur di Kabupaten Pangandaran, dan Pusat Observasi Bulan di Cibeas, Sukabumi. Selain itu, beberapa titik di pesisir utara dan selatan Jawa Barat juga akan digunakan.
Ohan menekankan bahwa perhitungan astronomis menunjukkan bahwa peluang terlihatnya hilal di wilayah Jabar pada tahun ini cukup menantang. Hal ini disebabkan oleh kriteria baru yang ditetapkan oleh MABIMS, yang telah memperketat ketinggian dan elongasi hilal. Meskipun hasil pengamatan diprediksi tidak seoptimal tahun sebelumnya, faktor cuaca dan jarak pandang akan sangat mempengaruhi.
Dalam upaya meningkatkan akurasi pengamatan, Kemenag Jabar memadukan teknologi modern dengan metode tradisional. Selain menggunakan teropong digital dan teodolit, beberapa pondok pesantren masih mempertahankan cara-cara tradisional, seperti penggunaan tongkat dan alat hitung manual.
Kemenag Jabar juga mengerahkan 135 petugas dari Badan Hisab Rukyat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam. Setiap daerah akan mengirimkan lima ahli untuk melaporkan hasil pengamatan langsung ke pusat. Hasil dari pemantauan di 11 titik tersebut akan dilaporkan kepada Kementerian Agama RI untuk keperluan Sidang Isbat dalam penentuan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah.