[original_title]

Kementan Kuatkan Biosekuriti untuk Lindungi Ternak Babi Toraja Utara

Syracusebroadband.org – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah berinisiatif memperkuat pendampingan bagi peternak babi di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Langkah ini diambil untuk memastikan kesehatan ternak dan keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyatakan bahwa pemeriksaan kesehatan, edukasi biosekuriti, dan pencegahan penyakit merupakan fokus utama kegiatan yang dimulai pada tahun 2026.

Kegiatan pendampingan dilakukan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan hewan, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dan Balai Besar Veteriner (BBV) Maros. Kegiatan ini mencakup verifikasi lapangan, pengambilan sampel, serta edukasi kepada peternak. Hendra menegaskan bahwa setiap ternak adalah aset berharga bagi peternak, sehingga laporan kematian ternak harus segera ditindaklanjuti.

Antara Mei hingga Juli, Kementan merespons laporan kematian 25 ekor babi di lima desa, yang mengungkap adanya wabah African Swine Fever (ASF). Tindak lanjut dari kejadian ini termasuk memperkuat edukasi biosekuriti dan pengawasan lalu lintas ternak.

Pada awal Oktober, laporan kematian tujuh ekor babi di Desa Sa’dan Ulu Salu mendorong tim untuk melakukan verifikasi dan pengujian sampel. Kepala BBV Maros, Dinar Hadi Wahyu Hartawan, menekankan pentingnya laporan dari peternak untuk mencegah penyebaran penyakit.

“Budaya laporan yang terbuka dari peternak akan mendukung langkah pencegahan yang lebih efektif,” ujarnya. Dinar juga menekankan perlunya pemeriksaan segera dan mengingatkan peternak untuk tidak berspekulasi tentang penyebab kematian ternak sebelum hasil laboratoris diterima. Pemerintah berkomitmen hadir memberikan dukungan untuk mencegah kerugian yang lebih besar bagi peternak.

Baca Juga  Marc Marquez Pertimbangkan Mendirikan Tim MotoGP Setelah Pensiun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top