17 Februari 2026 – Fenomena gerhana matahari cincin akan menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menghiasi langit pada Februari 2026 dan menarik perhatian masyarakat di berbagai wilayah. Peristiwa ini terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, namun tidak menutupi Matahari secara penuh sehingga menyisakan cincin cahaya di tepinya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gerhana matahari cincin pada Februari 2026 dapat diamati dari sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di bagian barat dan tengah. Proses gerhana diperkirakan berlangsung selama beberapa jam, dengan fase puncak terjadi pada pagi hingga menjelang siang hari waktu setempat.
Secara astronomi, gerhana matahari cincin terjadi saat jarak Bulan ke Bumi berada pada titik yang lebih jauh. Kondisi tersebut membuat diameter tampak Bulan lebih kecil dibanding Matahari, sehingga cahaya Matahari tidak tertutup sempurna. Fenomena ini berbeda dengan gerhana matahari total yang membuat langit gelap sesaat.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengamati gerhana secara langsung tanpa pelindung mata yang sesuai. Menggunakan kacamata khusus gerhana atau metode proyeksi tidak langsung menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan mata akibat paparan sinar Matahari.
Selain nilai ilmiah, gerhana matahari cincin kerap dimanfaatkan sebagai sarana edukasi astronomi bagi pelajar dan masyarakat umum. Lembaga riset antariksa nasional menilai peristiwa ini sebagai momentum untuk meningkatkan literasi sains dan ketertarikan publik terhadap fenomena langit.
Dengan kondisi cuaca cerah dan persiapan yang tepat, gerhana matahari cincin Februari 2026 diperkirakan dapat disaksikan dengan aman dan menjadi pengalaman langit yang berkesan bagi banyak orang.