Syracusebroadband.org – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta mengalami pelemahan, dengan penurunan sebesar 30 poin atau 0,18 persen, menjadi Rp16.923 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup pada posisi Rp16.893 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa penyebab utama pelemahan ini adalah ketidakpastian yang meningkat akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Rully menambahkan, situasi ini membuat investor cenderung menghindari aset-aset berisiko seperti rupiah, yang berkontribusi pada peningkatan indeks dolar. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, mengungkapkan pada Kamis (12/3) bahwa Iran akan menuntut tanggung jawab Presiden AS, Donald Trump, atas agresi terhadap negaranya. Larijani memperingatkan bahwa pernyataan Trump tidak akan mengubah hasil dari konflik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, kekhawatiran domestik juga turut mempengaruhi nilai tukar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa defisit anggaran negara diprediksi semakin tinggi akibat kenaikan subsidi yang disebabkan oleh harga minyak yang melonjak. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 mencatatkan defisit 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang mencapai Rp135,7 triliun pada akhir Februari 2026. Diproyeksikan, APBN 2026 akan mengalami defisit hingga Rp698,15 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB.
Dengan ringannya, ketidakpastian global dan isu domestik ini menunjukkan tantangan yang dihadapi rupiah dalam perdagangan dunia.
![Rupiah Tertekan Oleh Ketidakpastian Konflik Iran dan AS-Israel | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/03/Kurs-Rupiah-Terhadap-Dollar-AS-020718-pus-1.jpg)