Syracusebroadband.org – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa adaptasi berbasis informasi iklim presisi terbukti efektif dalam mencegah risiko gagal panen pada lahan tadah hujan di Indonesia, terutama di tengah pengaruh fenomena El Nino. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
El Nino dan musim kemarau panjang yang berlangsung saat ini telah memberikan tekanan signifikan terhadap hampir seluruh daerah pertanian. Menurut Ardhasena, integrasi informasi iklim dan langkah mitigasi yang dilakukan di lapangan mampu mengurangi potensi kerugian. Sinergi adaptasi tersebut melibatkan Kementerian Pertanian, menggunakan berbagai strategi seperti intensifikasi dan penyesuaian pola tanam.
Contoh sukses penerapan informasi iklim dapat dilihat di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Di sana, para petani berhasil memajukan masa tanam dan memilih varietas yang tepat setelah menerima peringatan dini dari BMKG. “Melalui penyesuaian pola tanam, wilayah Pangkep mampu menyelamatkan 7.067 hektare lahan pertanian dari ancaman gagal panen,” jelas Ardhasena.
BMKG juga mengingatkan perlunya pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan prakiraan iklim sebagai rujukan dalam merancang kalender tanam, yang menjadi penting untuk ketahanan pangan nasional. Diproyeksikan, musim kemarau akan berakhir saat musim hujan tiba pada Oktober hingga Desember 2026, meskipun El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga kuartal pertama 2027.
Puncak musim hujan diharapkan terjadi pada Desember 2026 di berbagai zona musim, meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, serta akan terus berlanjut hingga Februari 2027 di beberapa daerah lainnya.
![Pemanfaatan Informasi Iklim Dukung Cegah Gagal Panen Luas | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260907-WA0017.jpg)