Syracusebroadband.org – Sebanyak 31 juta rakyat Iran telah mendaftar sebagai sukarelawan untuk menghadapi potensi ancaman perang yang semakin meningkat. Langkah ini menyusul ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, terutama setelah adanya insiden di Selat Hormuz di mana sebuah kapal perang AS dilaporkan mengabaikan peringatan dan terkena dua rudal. Kapal tersebut terpaksa mundur dari dekat pelabuhan Jask, menurut laporan dari media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Meskipun demikian, militer AS membantah adanya serangan terhadap kapal mereka.
Peringatan ini muncul setelah kepala komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa pasukan AS akan dihadapkan pada konsekuensi jika memasuki perairan tersebut. Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran akan berjuang sekuat tenaga untuk mengamankan Selat Hormuz, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai navigasi kapal-kapal yang terdampak konflik AS-Israel melalui jalur tersebut.
Selain itu, dalam upaya memobilisasi dukungan publik, Iran melakukan kampanye untuk menyiapkan masyarakat menghadapi potensi konflik yang berkepanjangan. Kementerian Luar Negeri Iran, yang mengkonfirmasi sedang meninjau teks negosiasi terbaru dari AS, menekankan perlunya pendekatan yang lebih realistis dalam proses diplomasi.
Ketegangan ini juga sejalan dengan upaya Iran untuk membangun kembali kekuatan militer, termasuk persiapan rudal dan drone, jika pertempuran kembali berlanjut. Dalam konteks ini, pemerintah Iran masih menerapkan larangan akses internet hampir total sebagai langkah “keamanan” bagi lebih dari 90 juta warganya. Otomatis, langkah ini berlanjut hingga situasi konflik dinyatakan selesai.
![Mereka Rela Berkorban, 31 Juta Rakyat Iran Daftar Sukarelawan | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/05/31-juta-rakyat-iran-daftar-sukarelawan-berani-mati-untuk-hadapi-ancaman-perang-jilid-ii-ini-5-faktan.jpeg)