Syracusebroadband.org – Upaya Amerika Serikat untuk meraih kesepakatan damai baru dengan Iran dinilai lebih rumit dibandingkan periode satu dekade lalu. Alan Eyre, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, mengungkapkan bahwa situasi politik saat ini telah berubah secara signifikan setelah kesepakatan nuklir tahun 2015. Dalam wawancaranya dengan CNN pada 11 Mei 2026, Eyre, yang merupakan anggota tim negosiasi Presiden Barack Obama, menilai kepemimpinan Iran saat ini lebih konservatif.
Eyre menjelaskan bahwa pada tahun 2015, Iran dipimpin oleh pemimpin yang lebih moderat, sedangkan saat ini, kepemimpinan Iran cenderung radikal. Negosiasi tidak hanya terfokus pada program nuklir, tetapi juga melibatkan isu-isu sensitif seperti kedaulatan di Selat Hormuz. Hal tersebut memperumit usaha pencapaian kesepakatan yang diharapkan.
Eyre juga menyoroti adanya jarak antara pernyataan publik dan kenyataan di meja perundingan. Menanggapi kritik dari Presiden Donald Trump yang mengklaim Iran telah mengingkari janji, Eyre menyatakan bahwa banyak informasi yang beredar tidak mencerminkan realitas, dan mungkin disebabkan oleh kesalahpahaman atau manipulasi.
Di sisi lain, Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, menegaskan bahwa Iran siap menghadapi berbagai skenario jika negosiasi tidak membuahkan hasil. Dalam pernyataannya di media sosial, Ghalibaf mengingatkan bahwa strategi yang keliru dari pihak Barat hanya akan berujung pada kegagalan. Ia menekankan bahwa AS harus mengakui hak rakyat Iran yang diungkapkan dalam proposal 14 poin. Selain itu, ia menegaskan bahwa semakin lama negosiasi ditunda, semakin besar risiko yang harus ditanggung oleh pembayar pajak di AS.
![Kesepakatan Damai dengan Iran Kini Lebih Rumit dari Era Obama | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/05/1778539548_686df50478f6e5c7de6e.jpg)