Syracusebroadband.org – Tiga asosiasi di sektor rokok alternatif dan elektrik, yaitu Asosiasi Ritel Vape Indonesia (ARVINDO), Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), dan Perkumpulan Pengusaha Eliquid Indonesia (PPEI), mendorong adanya dialog konstruktif dengan lembaga riset mengenai penelitian yang terkait risiko kesehatan dari produk mereka. Ini disampaikan oleh ketua masing-masing asosiasi dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Selasa (26/9).
Fachmi K Firmansyah, Ketua Umum ARVINDO, menekankan bahwa klaim risiko kesehatan dapat berdampak signifikan pada pelaku usaha lokal, terutama karena industri ini memiliki karakter padat karya. “Dari hulu sampai ke hilir, semua pemainnya adalah lokal,” ungkapnya.
Budiyanto, Ketua Umum APVI, tidak menolak adanya riset yang membuktikan risiko kesehatan, namun menegaskan perlunya informasi yang lebih komprehensif tentang metodologi, sampel, dan indikator yang digunakan dalam penelitian tersebut. Ia mengingatkan bahwa sejumlah studi telah dilakukan sebelumnya yang menilai berbagai parameter industri rokok elektronik.
Daniel Boy Purwanto, Ketua Umum PPEI, menyatakan bahwa industri memahami dan siap untuk beradaptasi dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya risiko kesehatan. Ia menekankan pentingnya bukti ilmiah dalam mengevaluasi produk.
Di sisi lain, Paido Siahaan dari Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO) menyoroti perlunya tindakan tegas terhadap penyalahgunaan vape, terutama yang melibatkan narkoba. Ia menegaskan pentingnya memisahkan antara produk legal yang dipasarkan sesuai regulasi dari produk ilegal yang digunakan untuk kegiatan penyalahgunaan. Penegasan ini diharapkan akan memperkuat upaya pemerintah dalam pemberantasan narkotika secara lebih efektif.
![Industri Dorong Dialog Bersama Mengenai Risiko Rokok Elektrik | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/10/APVI.jpg)