Site icon syracusebroadband.org

Garuda Diyakini Mampu Pertahankan Bisnis di Tengah Beban Avtur

[original_title]

Syracusebroadband.org – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal dengan kode GIAA, berhasil mempertahankan ketahanan bisnisnya di tengah tantangan global yang berdampak pada industri penerbangan. Pada paruh pertama tahun 2026, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 1,80 miliar dolar AS, mengalami lonjakan 16 persen dibandingkan 1,55 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun 2025. Rugi bersih Garuda Indonesia juga menunjukkan perbaikan, menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS.

Pencapaian ini terjadi di tengah tekanan dari kenaikan harga bahan bakar yang signifikan. Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia, Alvin Lie, menilai periode Agustus hingga November 2026 akan menjadi tantangan berat bagi maskapai penerbangan, disebabkan oleh harga bahan bakar yang meningkat, pelemahan nilai rupiah, serta kondisi low season.

Gerry Soejatman, seorang pengamat penerbangan, menjelaskan bahwa biaya avtur, yang berkontribusi lebih dari separuh total biaya operasi maskapai, semakin terasa berat di tengah volatile-nya nilai tukar dan biaya penerbangan yang didominasi mata uang asing. Beban avtur Garuda pada semester I meningkat 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS, di mana kenaikan khususnya mencuat pada kuartal kedua dengan peningkatan sebesar 90 persen secara tahunan.

Walaupun menghadapi tantangan ini, EBITDA Garuda naik 5,8 persen mencapai 431,6 juta dolar AS, dan EBIT tumbuh 12,7 persen menjadi 74 juta dolar AS. Pertumbuhan pendapatan dipicu oleh peningkatan layanan penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal, serta pendapatan dari layanan pemeliharaan pesawat. Keberhasilan ini mencerminkan upaya pengendalian biaya yang dilakukan perusahaan, serta pengurangan beban keuangan. Pada akhir Juni 2026, Garuda mencatat arus kas operasional positif senilai 253,1 juta dolar AS.

Exit mobile version