Syracusebroadband.org – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta perlindungan yang lebih kuat dari pemerintah menyusul cuaca ekstrem yang mengancam keberlangsungan nelayan kecil di berbagai wilayah pesisir. Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, mengungkapkan bahwa cuaca buruk yang berlangsung beberapa bulan terakhir tidak hanya menimbulkan bahaya bagi nelayan, tetapi juga merusak infrastruktur pesisir dan mengurangi hasil tangkapan perikanan.
Data yang diperoleh KNTI menunjukkan bahwa sekitar 95 persen nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terkena dampak dari kondisi cuaca ini. Bahkan, 63 persen dari mereka terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena risiko keselamatan yang meningkat. Penelitian ini dilakukan terhadap nelayan di 41 kabupaten dan kota di 14 provinsi pada Januari 2026.
Dani menegaskan, pentingnya kehadiran negara untuk memberikan dukungan dan perlindungan bagi nelayan kecil. Diungkapkan bahwa pemerintah, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan tersebut, khususnya dalam situasi cuaca yang tidak mendukung ini. “Risiko yang dihadapi nelayan semakin tinggi dan tidak dapat ditanggung sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dani menambahkan bahwa informasi mengenai prakiraan cuaca saja tidak cukup untuk melindungi nelayan kecil yang bergantung pada hasil laut untuk kehidupan sehari-hari mereka. Dalam konteks ini, KNTI berharap langkah-langkah konkret dapat diambil agar nelayan dapat beroperasi dengan lebih aman dan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk bertahan di tengah tantangan yang ada.
![Cuaca Ekstrem Mengancam Nelayan, KNTI Desak Perlindungan Negara | syracusebroadband.org [original_title]](https://syracusebroadband.org/wp-content/uploads/2026/01/usulan-instrumen-stabilisasi-harga-ikan-2645557.jpg)