09 March 2026 – Rupiah tembus Rp17.000 pada pembukaan perdagangan Senin, sebelum memangkas pelemahan di pertengahan sesi. Tekanan datang bersamaan dengan lonjakan tajam harga minyak dunia dan menguatnya permintaan terhadap dolar AS, membuat mata uang Asia bergerak dalam zona merah pada awal pekan. Di pasar spot, rupiah sempat dibuka di Rp17.019 per dolar AS lalu bergerak ke kisaran Rp16.977 per dolar AS sekitar pagi hari.
Pergerakan itu menandai bertambahnya tekanan setelah rupiah ditutup di Rp16.925 per dolar AS pada Jumat, 6 Maret 2026. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia terakhir tercatat Rp16.919 per dolar AS pada 6 Maret 2026. Bank sentral menjelaskan JISDOR merupakan acuan harga spot USD/IDR yang disusun dari transaksi antarbank di pasar valas domestik.
Sentimen eksternal menjadi pemicu utama. Harga minyak Brent pada Senin pagi melonjak menembus kisaran 111 dolar AS per barel, bahkan sempat bergerak lebih tinggi di pasar global, setelah konflik di Timur Tengah memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi dan distribusi melalui jalur pelayaran utama. Kondisi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Bank Indonesia di bawah Gubernur Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan fokus kebijakan tetap pada stabilitas nilai tukar, sementara suku bunga acuan BI-Rate pada 19 Februari 2026 dipertahankan di 4,75 persen. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2026 masih tergolong tinggi, yakni 151,9 miliar dolar AS, menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas eksternal di tengah gejolak pasar global yang kembali meningkat. Bank Indonesia
